Inovasi Sehat dari Malang Beras Analog Singkong Antidiabetes Karya Mahasiswa malang

MALANG KOTA-DI tengah tren gaya hidup sehat dan meningkatnya jumlah penderita diabetes, sekelompok mahasiswa dari Universitas Negeri Malang menghadirkan solusi inovatif yang menjanjikan. Mereka menamai produk temuannya Eucherus. Itulah beras analog berbahan dasar singkong, rumput laut, dan jeruk nipis yang dirancang khusus sebagai makanan alternatif bagi penderita diabetes.

 

Penelitian yang dilakukan sepanjang tahun 2024 tersebut dipimpin oleh Rifqi Hilman. Dua anggota tim lainnya adalah Ainun Aulia Ambarsari dan Anfielda Salsha Yozinda. Dengan dana dari skema Inovasi Mahasiswa Non-APBN, mereka melakukan eksperimen langsung di Malang, mulai produksi bahan hingga pengujian laboratorium di Laboratorium Sentral UMM.

 

Beras analog bukan barang baru di dunia pangan. Tetapi Eucherus membawa pendekatan yang berbeda. Biasanya beras analog hanya menggunakan singkong sebagai bahan dasar. Namun tim Rifqi menambahkan dua bahan yang cukup unik. Yakni, karagenan dari rumput laut dan ekstrak jeruk nipis. Kombinasi itu bukan cuma menambah cita rasa. Tekstur pun menjadi lebih baik. Manfaat fungsional untuk kesehatan juga terkatrol.

 

Karagenan sendiri terkenal sebagai zat pengental alami yang mampu memperbaiki tekstur makanan. Sementara jeruk nipis, dengan kandungan vitamin C dan antioksidannya, diyakini memiliki efek antidiabetes yang mampu membantu tubuh mengontrol kadar gula darah.

 

Dari sisi uji laboratorium, hasilnya cukup menjanjikan. Beras analog itu memiliki kadar karbohidrat yang lebih rendah dibandingkan beras putih biasa. Misalnya, formula terbaik mereka—yang diberi nama P3—mengandung sekitar 35,78 gram karbohidrat. Bandingkan dengan beras putih biasa mencapai 39,87 gram. Selisih itu cukup signifikan untuk penderita diabetes yang perlu menjaga asupan karbohidrat hariannya.

 

Tidak hanya itu, tekstur dan rasa dari beras analog itu juga mendapat perhatian khusus. Salah satu tantangan utama dalam pengembangan beras analog dari singkong adalah menghasilkan bentuk dan tekstur yang menyerupai beras konvensional.

 

Singkong cenderung menghasilkan butiran kasar dan kurang menarik. Untuk mengatasi hal ini, tim menggunakan metode pengeringan matahari yang disusul dengan penambahan karagenanagar butiran lebih kenyal dan utuh.

 

Jeruk nipis dalam formulanya juga memberikan aroma segar dan cita rasa asam yang memperkaya pengalaman makan. Tak hanya memperbaiki rasa, jeruk nipis ternyata juga membantu membuat nasi lebih awet dan tidak mudah basi karena kandungan asam sitratnya yang berfungsi sebagai pengawet alami.

 

Apa yang dilakukan Rifqi dan timnya bukan sekadar eksperimen di laboratorium. Mereka membayangkan Eucherus bisa menjadi produk komersial yang mudah diakses masyarakat, terutama penderita diabetes yang kesulitan menemukan makanan pengganti nasi yang aman dan lezat. Terlebih, bahan-bahan seperti singkong dan jeruk nipis sangat mudah ditemukan di pasar lokal Indonesia. Artinya, produk itu bisa diproduksi dengan biaya terjangkau dan memberikan nilai tambah bagi pertanian lokal.

 

Menariknya lagi, produk ini telah mendapatkan hak cipta dan sedang dalam proses publikasi di jurnal ilmiah dan prosiding nasional. Hal itu menunjukkan bahwa temuan mereka bukan sekadar tugas kuliah, melainkan inovasi yang serius dan punya peluang besar untuk diterapkan secara luas.

 

Tak bisa dimungkiri, tantangan kesehatan masyarakat, terutama penyakit tidak menular seperti diabetes, menuntut solusi kreatif dan berbasis sains. Eucherus adalah contoh nyata bagaimana mahasiswa bisa berperan langsung dalam menyelesaikan masalah nyata dengan pendekatan inovatif yang tidak rumit.

 

Dengan menggabungkan pengetahuan sains, bahan lokal, dan semangat kreativitas, beras analog Eucherus hadir sebagai harapan baru bagi masyarakat yang ingin hidup lebih sehat tanpa mengorbankan selera makan. Siapa sangka, dari dapur kecil laboratorium kampus, lahirlah solusi besar untuk Indonesia yang lebih sehat. (*)

 

UMAGAZINE.ID

 

Press ESC to close