“Satu Tangan Pun Bisa, Asal Hatinya Dua Kali Lebih Kuat”
Saya kerja di proyek Bulan Terang Utama, bagian logistik. Setiap pagi saya datang lebih awal, ngecek material—semen, pasir, besi, sampai pembelian olie buat kendaraan proyek. Kalau ada yang kurang, langsung saya hubungi pengiriman. Kalau satu bahan telat, bisa kacau semua kerjaan. Saya sudah di sini dari tahun 1996, waktu proyek perumahan subsidi pertama di Mondoroko mulai dibangun. Waktu itu jalan masih tanah, belum seperti sekarang, tapi saya senang bisa ikut dari awal. Saya cuma punya satu tangan. Tapi itu bukan alasan untuk berhenti. Yang penting kerjaan beres. Kadang harus angkat-angkat juga, tapi saya cari cara sendiri. Nggak semua harus pakai tenaga, kadang cukup pakai akal. Saya punya empat anak, semua saya besarkan dari kerja di proyek. Nggak mudah, tapi saya bangga mereka bisa sekolah dan jadi orang. Saya ke lokasi tiap hari naik motor Karisma. Motor tua, tapi sudah jadi teman kerja sejak lama. Kadang mogok, ya itu bagian dari cerita hidup. Orang sering nanya, “nggak capek kerja terus, Pak?” Saya jawab, kalau saya berhenti, malah bingung mau ngapain. Buat saya, kerja itu bukan soal kuat atau lemah. Tapi soal niat. Selama masih bisa bangun pagi dan jalan ke lapangan, saya akan terus kerja. Satu tangan pun bisa, asal hatinya dua kali lebih kuat.
Malangkota