Tri Mulyono: Lebih dari Sekadar Tukang Sayur
Di sebuah sudut kota Malang, tepatnya di Perumahan Bulan Terang Utama (BTU), setiap sore ada satu sosok yang kehadirannya hampir tak pernah absen. Namanya Tri Mulyono. Warga mengenalnya sebagai penjual sayur keliling. Tapi di balik gerobak motornya yang sederhana, tersimpan perjalanan hidup yang luar biasa: tentang ketekunan, kesetiaan, dan arti hadir bagi sesama.
Tri tinggal di Belung Buntaran, Poncokusumo — sebuah desa di lereng pegunungan. Setiap hari, ia menempuh perjalanan puluhan kilometer untuk tiba di BTU. Bukan perjalanan mudah, tapi Tri menjalaninya tanpa keluhan. Ia tahu, di ujung sana ada keluarga yang menunggu, dan ada puluhan pelanggan setia yang diam-diam menggantungkan hari mereka pada keberadaannya.
"Waktu perumahan ini masih sepi, saya udah keliling dari pagi. Kadang seharian cuma dua orang yang beli. Tapi saya tetap jalanin. Soalnya ini satu-satunya cara saya cari makan buat keluarga," kisahnya.
Tri bukan sekadar berdagang. Ia hadir. Setiap hari. Dengan kesadaran penuh bahwa jualan sayur bukan hanya soal transaksi, tapi soal membangun kedekatan, kepercayaan, bahkan harapan kecil dalam kehidupan sehari-hari orang-orang yang ia layani.
Biasanya, ia mulai mangkal sekitar pukul empat sore. Habis Magrib, ia mulai keliling masuk ke gang-gang, menawarkan sayur segar, bumbu dapur, lauk, hingga jajanan. Banyak yang tidak tahu, ia sering baru pulang ke rumah setelah jam sembilan malam.
Meski kini BTU jauh lebih ramai dan pembeli makin banyak, satu hal tetap sama: pertanyaan-pertanyaan tak terduga dari para pelanggan yang membuatnya tersenyum simpul.
“Mas, kangkungnya ada?”
“Tahu tadi ada, kok sekarang nggak ada tempe?”
“Daun salam bawa nggak, Mas?”
“Kapulaga habis ya?”
Dengan nada bercanda ia bilang, “Kadang saya bingung, ini jualan sayur atau ikut kuis dapur.”
Namun, ia tetap datang. Setiap hari. Dengan senyum dan semangat yang tak berubah. Bagi sebagian orang, Mas Tri mungkin hanya tukang sayur. Tapi bagi banyak warga BTU, ia lebih dari itu. Ia adalah bagian dari ritme harian mereka. Figur yang menyapa, mendengar, dan hadir. Sosok kecil dalam sistem besar kehidupan kota — yang justru keberadaannya membentuk denyut kebersamaan.
"Saya cuma pengin anak-anak saya sekolah, bisa makan enak, bisa ketawa. Saya kerja buat mereka, buat istri. Saya nggak minta jadi siapa-siapa. Yang penting, saya bisa terus datang," ucapnya, pelan.
Dan mungkin itulah makna dari menjadi "hadir". Tak selalu perlu dikenal, tapi dirasakan.
Malangkota