Asal Usul Bahasa Walikan Warisan Rahasia Arek Ngalam

Malangkota -Malang bukan sekadar kota sejuk dengan jajaran gunung dan kuliner lezat. Di balik keramahan warganya, kota ini menyimpan sebuah warisan budaya tak ternilai: bahasa walikan. Bahasa khas ini bukan hanya unik, tapi juga punya kisah panjang tentang perjuangan, kreativitas, dan identitas lokal arek Ngalam.

Apa Itu Bahasa Walikan?

Sederhananya, bahasa walikan adalah cara bicara dengan membalik kata—baik sebagian maupun seluruhnya. Contohnya, "Malang" menjadi "Ngalam", "Arek" menjadi "Kera", dan "Makan" menjadi "Nakan". Tapi jangan salah, walikan bukan hanya sekadar main-main kata. Ada makna dan sejarah panjang di baliknya.

Konon katanya Sejarah berasal  Dari Perlawanan Jadi Kebanggaan

Bahasa walikan dipercaya muncul pada masa penjajahan, ketika para pejuang kemerdekaan di Malang perlu berkomunikasi secara rahasia. Bahasa yang dibalik ini digunakan sebagai kode agar tidak mudah dipahami oleh penjajah. Dalam situasi genting, bahasa walikan menjadi alat perlindungan sekaligus perlawanan.

Lalu pada era 70-90an, bahasa ini hidup kembali lewat anak-anak muda, pelajar, dan komunitas seperti suporter Aremania. Bahasa walikan bukan cuma dipakai di tongkrongan atau stadion, tapi juga menjadi simbol identitas sebagai arek Malang sejati.

Bahasa Gaul, Tapi Kaya Nilai

Hingga kini, bahasa walikan terus berkembang. Banyak kata baru bermunculan, gaya bicara makin kreatif, bahkan sudah masuk ke dunia digital dan media sosial. Contoh kata walikan yang sering digunakan:

  • Nawak (teman)
  • Lotnep (pentol/bakso)
  • Umak (kamu)
  • Isilop (polisi)

Menariknya, bahasa ini tetap digunakan lintas generasi, baik di warung kopi, kampus, hingga konten TikTok dan Instagram.

Warisan Budaya Malang yang perlu dijaga

Sebagai salah satu bentuk ekspresi budaya lokal, bahasa walikan adalah aset penting Kota Malang. Ia bukan hanya alat komunikasi, tapi juga pengikat identitas dan simbol kebanggaan.

Maka, penting bagi kita terutama generasi muda untuk terus mengenalkan dan menggunakan bahasa walikan dalam kehidupan sehari-hari. Entah lewat karya seni, konten digital, atau sekadar obrolan santai.

Bahasa walikan bukan tren sesaat. Ia adalah bagian dari Malang. Semakin sering kita pakai dan ajarkan, semakin kuat akar budaya lokal kita.

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by kotamalang (@malangkotadotcom)

Press ESC to close